Profil Helvy Tiana Rosa & Karyanya

helvy tiana rosa (HTR)

Tentang Penulis: Helvy Tiana Rosa

Helvy Tiana Rosa, lahir di Medan, Sumatera Utara; 2 April 1970. Seorang sastrawan, Pendiri Forum Lingkar Pena dan dosen di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.

Helvy merupakan anak pertama dari pasangan Amin Usman atau lebih dikenal dengan nama Amin Ivo’s, seorang pencipta lagu asal Aceh, dan Maria Arifin Amin, seorang perempuan keturunan Cina yang lahir di Medan. Helvy memiliki adik bernama Asmarani Rosalba yang kemudian lebih dikenal dengan nama pena: Asma Nadia dan seorang adik lelaki bernama Aeron Tomino. Sejak usia empat tahun, bersama keluarganya Helvy hijrah ke Jakarta. Helvy dan keluarganya pernah hidup dengan sangat sederhana di tepi rel kereta api Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Setiap malam sebelum tidur, Sang Ibu selalu mendongengi mereka hal-hal yang penuh optimisme. Setiap malam Helvy juga melihat ibunya menulis diari. Sang ibu memotivasinya menulis catatan harian sebagai latihan menyampaikan pendapat, perasaan dan menulis itu sendiri. Pada usia belum lima tahun, Helvy sudah bisa membaca.

Saat masuk usia sekolah, Helvy tinggal bersama neneknya Rosalina Arifin di Bandung. Ia bersekolah di SD Bhayangkari I Bandung hingga kelas 2 SD. Helvy melatih kebiasaannya menulis dengan mengirim surat hampir setiap hari pada ibunya di Jakarta, menulis buku harian dan mengirim puisi ke majalah anak-anak yang ada pada waktu itu.

Tak tahan jauh dari keluarga, Helvy kembali ke Jakarta, melanjutkan sekolah ke SD Kartini II Jakarta hingga tamat. Di dekat rumah mereka di Kemayoran, ada tempat penyewaan buku, di mana banyak orang menyewa buku komik berjilid-jilid. Helvy ternganga melihat tempat penyewaan buku itu. Seperti sebuah kebutuhan, setiap hari bisa lebih dari tiga kali ia main ke sana bersama adik-adiknya. Sayang, mereka selalu diusir karena tidak pernah mampu menyewa buku-buku tersebut, dianggap mengganggu yang lain dengan bertanya tentang buku-buku yang ada. Ibu mereka sehari-hari berjualan seprei keliling untuk membantu menopang kehidupan keluarga. Ia rela pergi jalan kaki agar pulangnya bisa membawa buku bagi Helvy dan adik-adiknya. Kadang bila beruntung, Ibu mereka mendapatkan pinjaman buku-buku cerita dari anak teman-temannya maupun orang yang membeli seprainya. Ibu Helvy berjanji untuk merawat buku pinjaman, memberi sampul plastik gratis bagi buku-buku yang belum disampul. Karena itulah setiap hari Helvy dan adik-adiknya bisa membaca tiga sampai sepuluh buku cerita sehari. Saat kelas III SD dengan mengumpulkan semua buku miliknya yang ia beli dari uang tabungan, Helvy membuka perpustakaan kecil di rumahnya agar anak-anak sebayanya bisa bebas membaca tanpa perlu membayar. Ia pun mulai menyemangati adiknya untuk menulis. Puisi dan cerpennya mulai dimuat di majalah anak-anak seperti Ananda, Bobo, Tomtom dan Halo.

Cita-cita Helvy waktu itu hanya satu: ingin bisa memiliki mesin tik agar cerpen-cerpennya dibaca oleh para redaktur majalah. Tetapi majalah-majalah itu tidak memberinya honor berupa uang, melainkan buku, sehingga buku-buku koleksinya terus bertambah.

Sementara itu bila Ayahnya di rumah, setiap hari rumah mereka akan penuh suara musik, terutama dari The Beatles. Karena itu sejak SD Helvy hafal banyak sekali lagu-lagu dari group band tersebut. Ayahnya heran karena Helvy menunjukkan ketertarikan yang amat sangat pada syair-syair lagu The Beatles. Sang Ayah adalah seorang seniman yang menguasai banyak alat musik. Ia mengarang semua jenis lagu mulai dari Dangdut, Pop, Jazz sampai Rock n Roll. Sejak ia tahu Helvy menyukai dan memperhatikan syair lagu, juga suka mencipta puisi, tiap kali mengarang lagu, Helvy yang masih SD diminta oleh Sang Ayah untuk memeriksa syair lagunya. Kalau ada syair yang kurang pas, ayahnya selalu bertanya dan meminta masukan. Kebiasaan ini kerap dilakukan ayah Helvy hingga anaknya kuliah. Entah mengapa, ayahnya selalu yakin bahwa Helvy bisa menulis syair yang bagus, bahkan lebih bagus dari yang ia buat. Kelak tahun 1990-an lagu-lagu pop karya sang Ayah yang dinyanyikan Dewi Yull, Rafika Duri, Iis Sugianto, Christine Panjaitan, Andi Meriem Matalatta, Broery Pesolima dan lain-lain menjadi hits dan membawa ekonomi keluarga mereka lebih baik.

Guru SD Helvy, Ibu Su’amah memperkenalkan Helvy pada Taman Ismail Marzuki (TIM), tahun 1980. Maka sejak saat itu setiap minggu Helvy pergi ke TIM untuk melihat para seniman di sana yang sedang berproses maupun yang hanya duduk-duduk di warung. Saat sedang tak punya uang, Helvy tetap berangkat ke TIM meski harus berjalan kaki. Diam-diam ia mengamati anak-anak seusianya yang berlatih teater. Ia tahu keluarganya tak mampu untuk membayar apapun selain untuk belajar di sekolah. Maka Helvy menyerap semua yang ia bisa dengan riang. Bersama Ibu Su’amah ia mulai mengikuti lomba-lomba baca puisi di TIM dan belajar sendiri dari pengalamannya untuk membaca puisi yang baik.

Helvy kemudian melanjutkan sekolah ke SMPN 78 Jakarta dan mengikuti Teater 78 (teater sekolah) bimbingan Kak Mukhlis. Ia menyukai teater dan mulai menulis naskah-naskah teater untuk pementasan sekolah dan Sanggar Zuluq, sebuah perkumpulan remaja di rumahnya. Di sekolah, hampir setiap pelajaran matematika ia selalu disetrap oleh gurunya Pak Rumapea karena tida bisa menjawab soal di papan tulis atau karena nilai-nilainya jelek. Helvy juga sering kedapatan di kelas diam-diam membaca novel dan kumpulan cerpen karya Danarto, Budi Darma dan Putu Wijaya yang dipinjamkan Pak Kasmino, guru bahasa-nya. Guru Matematika-nya bahkan dengan marah pernah mengusir Helvy dari kelas dan berkata, “Kamu tidak akan pernah jadi orang yang berhasil karena kamu gagal di kelas saya!” Sejak saat itu Helvy semakin tidak suka pelajaran matematika. Ia berpikir, andai saja guru-guru matematika mengajarkan rumus matematika dengan puisi dan cerita yang seru, mungkin ia bisa sangat menyukai matematika.

Di luar itu, Helvy terus berpikir tentang sebuah mesin tik. Maka tanpa sepengetahuan orangtuanya ia mengamen puisi di atas bus-bus yang kadang membawanya keliling Jakarta hingga malam hari. Ia bertekad mengumpulkan uang dan membeli sendiri sebuah mesin tik. Kadang ia mengamen puisi di TIM karena ingin berjumpa para sastrawan idolanya. Pernah Helvy melihat Taufiq Ismail, Ramadhan KH, Putu Wijaya, Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri sedang mengobrol di warung di TIM dan ia nekad membacakan puisi-puisinya sekadar mendapat perhatian mereka. Karena mereka sibuk, mereka hanya memberi beberapa keping logam setelah menatap Helvy sekilas. Sejak saat itu Helvy bertekad, suatu saat ia akan menjadi sastrawan seperti mereka. Dan ia akan mendirikan sebuah organisasi untuk mendorong anak-anak seusianya, terutama mereka yang tak mampu, untuk menulis. Sering Helvy menulis surat pada Taufiq Ismail dan Putu Wijaya. Surat-surat itu tak pernah ia pos-kan, tapi ia balas sendiri, seolah-olah dari Taufiq Ismail dan Putu Wijaya. Helvy belum menyadari bahwa apa yang ia lakukan sesungguhnya makin mengasah bakat menulisnya. Pada masa inilah kemudian, dengan mesin tik pinjaman tetangga, Helvy terus menulis puisi dan cerita. Ia bangga sekali ketika puisinya beberapa kali menembus koran, di antaranya Sinar Harapan Minggu. Harian ini mengirimi Helvy buku-buku antara lain Totto Chan yang kemudian mendorong Helvy untuk mengajarkan membaca dan menulis pada anak-anak tak mampu dalam gerbong-gerbong kereta api tua di sekitar Gunung Sahari dan Stasiun Senen.

Suatu hari Helvy bertemu Putu Wijaya dalam suatu acara. Helvy menghampiri dan menyodorkan buku kecil ditangannya, meminta sastrawan yang ia kagumi itu menulis pesan untuknya. Putu Wijaya menulis: “Helvy, menulis adalah berjuang!” Helvy kemudian menempelkan tulisan tersebut pada cermin setengah badan di kamarnya dan bertekad untuk terus menulis.

Pada usia SMP ini Helvy mulai menjadi Juara Lomba Baca Puisi di tingkat Jakarta Pusat dan DKI serta bertemu dengan Ical Vrigar yang banyak mengajarinya membaca puisi. Helvy kemudian bergabung dengan Sanggar Kapas Jakarta pimpinan Ical Vrigar dan turut dalam berbagai pementasan teater serta musikalisasi puisi yang mereka adakan. Di Sanggar Kapas, kemampuan teaternya terus terasah dan Helvy berkali-kali menjadi Juara lomba Baca Puisi tingkat nasional. Terakhiri ia mengikuti lomba baca puisi tahun 1987, di mana ia menjadi Juara II Lomba Baca Puisi tingkat Nasional HUT Taman Ismail Marzuki, dengan Juri Sutardji Calzoum Bachri, Leon Agustadan Jose Rizal Manua.

Lepas SMP Helvy diterima di SMAN 5 Jakarta. Guru Bahasa Indonesia-nya Pak Muhyidin Dasuki selalu memberinya nilai mengarang A+ dan mengatakan bahwa ia merasa suatu saat Helvy akan menjadi pengarang terkemuka Indonesia. Pada saat itu, Helvy berkata pada gurunya, bahwa kalau ia bisa menjadi pengarang terkenal, ia akan membuat Indonesia Menulis, yaitu mengajak orang lain untuk ramai-ramai menjadi penulis karena menulis itu adalah perjuangan yang menyenangkan. Sementara itu, Helvy juga bergabung di Teater Lima, yaitu teater sekolah dan sempat menjadi ketuanya. Ia juga pernah berperan sebagai Dalang dalam lakon Jaka Tarubkarya Akhudiat yang membawa teaternya memenangkan Festival Teater tingkat SLTA tahun 1988.

Suatu hari saat ulangtahunnya yang ke 18, Helvy memutuskan untuk memakai jilbab. Padahal saat itu jilbab dilarang di sekolah atas instruksi Menteri P&K Daud Jusuf. Helvy memutuskan untuk tetap memakai jilbabnya meski kadang harus melompati pagar sekolah dan masuk lewat jendela. Ia menghadapi rintangan yang besar dari pihak sekolah. Puncaknya saat ia terancam tidak bisa mengikuti EBTANAS hanya karena jilbab yang ia kenakan. Kepala Sekolah akhirnya mengambil kebijakan boleh pakai jilbab di lingkungan sekolah, tapi saat di kelas tetap harus dibuka. Helvy tidak mau menerima kebijakan itu dan berdebat panjang dengan pihak sekolah hingga guru agama yang membelanya, Pak Munawir menangis. Saat Ebtanas tiba, jilbab tak boleh dikenakan di kelas. Untunglah saat EBTANAS, pengawas yang berjilbab dari luar sekolah membiarkannya menjawa soal-soal, sebelum Kepala Sekolah melakukan kontrol jilbab ke kelas-kelas. Selama tiga hari, Helvy pun tergesa-gesa mengerjakan semua soal Ebtanas hanya dalam waktu 20 menit! Saat Kepala Sekolahnya tiba di muka kelas, Helvy sudah berada di luar. Hal ini membuat guru-guru dan teman-temannya khawatir. Syukurlah, meski Helvy memperoleh Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang kecil akibat semua ujian Ebtanas dikerjakan cuma 20 menit itu, ia memperoleh ranking 2 di kelas, dan tetap bisa masuk ke Universitas Indonesia. Sebuah keajaiban menurut teman-temannya.

Helvy memilih Fakultas Sastra UI Jurusan Sastra Asia Barat, Program Studi Sastra Arab sebagai pilihan pertamanya. Di FSUI Helvy aktif berorganisasi. Selain mendirikan dan menjadi Ketua Teater Bening (1990-1993), ia dipilih sebagai staff Pengabdian Masyarakat Senat Mahasiswa FSUI (1991-1992), (1992-1993) bersama Indra J Piliang dan Litbang Senat Mahasiswa FSUI (1993-1994) pada masa Mustafa Kamal yang kini merupakan Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR RI. Helvy juga pernah duduk di Litbang Senat Mahasiswa UI (1994-1995). Selama di UI Helvy memenangkan berbagai perlombaan menulis yang diadakan FSUI maupun di UI, seperti Lomba Resensi Buku sastra dengan Ketua Dewan Juri Sapardi Djoko Damono, Lomba Resensi Buku yang diadakan Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. ‘Fisabilillah” menjadi Juara Lomba Cipta Puisi Yayasan Iqra, tingkat nasional (1992), dengan Dewan Juri HB Jassin, Sutardji Calzoum Bachridan Hamid Jabbar. Di FSUI kemampuan menulis Helvy kian terasah saat ia mendapat nilai tertinggi pada mata kuliah Penulisan Cerpen (Penulisan Populer I) dan Penulisan Artikel (Penulisan Populer II) yang diampu oleh peraih hadiah sastra Peagasus Prize dari Amerika Serikat, Ismail Marahimin. Tulisan-tulisan Helvy semakin sering dimuat di majalah remaja dan koran. Pada masa kuliah ini, Helvy juga aktif mengajar mengaji, membaca dan menulis bagi anak-anak dan remaja di Jabodetabek.

Tahun 1990 saat duduk di tingkat II FSUI, Helvy mendirikan Teater Bening—sebuah teater kampus yang seluruh anggotanya adalah perempuan. Ia menulis naskah dan menyutradarai berbagai pementasan teater tersebut. Meski awalnya dibentuk sebagai teater kampus, para anggotanya yang telah lulus kuliah, tetap latihan seperti biasa. Mereka mementaskan “Aminah dan Palestina” (1991), “Negeri para Pesulap” (1993), “Maut di Kamp Loka” (1994) dan “Fathiya dari Srebrenica” (1994) di Auditorium FSUI. Mereka juga mementaskan drama-drama satu babak yang diambil dari cerpen-cerpen karya Helvy Tiana Rosa: untuk dibawa pentas keliling kampus di Jabodetabek, Jawa dan Sumatera. Tahun 1997 mereka membawakan “Pertemuan Perempuan” yang Helvy tulis bersama Muthia Syahidah di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, “Mencari Senyuman” (1998), dan “Mata Airmata Merdeka”, naskah yang ditulisnya bersama Rahmadiyanti di Gedung Kesenian Jakarta(2000). Tahun 2005, naskah Helvy, “Tanah Perempuan” masuk tiga besar dalam Workshop Penulisan Naskah Drama Perempuan Indonesia yang diadakan Women Playwrights Indonesia, bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya UI dan DKJ, 2005, diikuti sekitar 300 peserta. Namun kendala yang dialami para anggota Teater Bening yang kebanyakan telah menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak, membuat Teater Bening tak sanggup untuk mementaskannya. Tahun 2009 Helvy mementaskan naskahnya: Tanah Perempuan, kali ini bersama para mahasiswanya di Bengkel Sastra UNJ. Pementasan keliling dilakukan di Universitas Negeri Jakarta, Gedung Kesenian Jakarta, CCL Bandung dan Auditorium RRI, Banda Aceh. Helvy tidak menyutradarai dan mempercayakan penyutradaraannya pada Ferdi Firdaus. Tahun 2012 Helvy diundang menulis dalam Indonesian Dramatic Reading Festival lewat lakon “Jiroris”.

Sejak berjilbab tahun 1988, Helvy semakin giat menulis dan mulai mengubah fokus dan gaya penulisannya lebih Islami. Namun ia merasa kesulitan menemukan media yang mau memuat karya-karyanya yang cenderung memiliki benang merah keislaman yang kental. Ia pun sadar bahwa kalau ia ingin membaca sebuah tulisan yang belum juga ia temukan untuk dibaca, maka itu berarti ia harus menuliskannya. Tahun 1990 Helvy bertemu Dwi Septiawati, pemimpin redaksi majalah remaja muslimah “Annida”. Setahun kemudian, sambil kuliah Helvy bekerja sebagai Redaktur Majalah Annida. Tahun 1992 ia diangkat menjadi Redaktur Pelaksana dan bertanggung jawab terhadap rubrik fiksi. Tahun 1993 majalah ini memutuskan mengubah format menjadi Majalah Kisah-kisah Islami Annida, yang hampir keseluruhan isinya adalah cerpen dan ditujukan bagi remaja. Annida mencoba secara konsisten melakukan dakwah melalui sastra untuk remaja muslim/ muslimah dengan menghindari kesan menggurui. Annida banyak melahirkan para penulis seperti: Asma Nadia, Habiburrahman El Shirazy, Afifah Afra, Melvi Yendra, Sakti Wibowo, Izzatul Jannah (Intan Savitri), Ragdi F. Daye, Jazimah Al Muhyi, Syamsa Hawa, Muhammad Yulius, Muthmainnah (Maimon Herawati), Sinta Yudisia, dll. Tahun 1993 manajemen Annida bergabung dengan Majalah Ummi yang membuat distribusi Annida sampai ke seluruh Indonesia.

Helvy kerap mendapat undangan ke berbagai daerah untuk mengisi berbagai acara keislaman, workshop penulisan atau sekadar temu pembaca. Oplah Annida pun terus meningkat, terutama di pesantren-pesantren. Taufiq Ismail pernah menyebut Annida membangun entitas baru kaum muda yang mencintai sastra dan Islam sekaligus (1999).

Tahun 1997, ketika menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Annida, Helvy mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP), sebuah wadah bagi kaum muda dan berbagai kalangan yang ingin menjadi penulis. Helvy mendiskusikan idenya pada sang adik Asma Nadia, dan mengajak Asma membantunya. Karena tidak ingin FLP dianggap sebagai forum keluarga, Helvy mengajak Maimon Herawati (Muthmainnah), cerpenis yang aktif menulis di Majalah Annida, dan mencantumkan namanya sebagai pendiri pula. Pada 22 Februari 1997 FLP resmi berdiri di Masjid UI, Depok dengan anggota pertama 30 orang. Dari jumlah itu baru Helvy yang karyanya telah dibukukan (Ketika Mas Gagah Pergi, 1997). Mereka lalu sepakat memilih Helvy sebagai Ketua Umum (1997-2005). Helvy kemudian membuka perekrutan anggota FLP di seluruh Indonesia melalui Majalah Annida dan terjaring lebih dari 3500 anggota. Helvy giat ke berbagai pelosok Indonesia, untuk memotivasi kaum muda menulis. Helvy percaya bahwa sampai pada tingkatan tertentu, menulis bisa diajarkan pada siapapun, termasuk pada para pekerja rumah tangga, anak-anak jalanan dan semacamnya. Ia ingin memberdayakan kalangan duafa dengan kegiatan membaca dan menulis, hingga menulis tidak lagi melulu kegiatan ekslusif kalangan intelektual. Menulis dapat menjadi skill yang bisa membantu memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan kaum duafa tersebut. Lebih dari itu menurutnya, tingkat peradaban suatu bangsa ditentukan dari berapa banyak orang yang membaca di negeri tersebut.

Bersama teman-temannya di FLP, tahun 2002 Helvy mendirikan dan mengelola “Rumah baCA dan HAsilkan karYA” (Rumah Cahaya) yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. FLP juga membuat Forum Lingkar Pena Kids yang mengajar anak-anak usia 5-15 tahun menulis sambil bermain. Tahun 2003 bersama Asma Nadia, Helvy mendirikan Yayasan Lingkar Pena. Tahun 2004 bekerjasama dengan Penerbit Mizan, dibuat Lingkar Pena Publishing House sebagai penerbit karya-karya FLP. Helvy diminta menjadi Direktur dari PT Lingkar Pena Kreativa yang mewadahi kerjasama tersebut, hingga 2011.

Kegiatan-kegiatan tersebut dilakoni Helvy dan teman-temannya dengan merogoh kocek sendiri. Karena itu Helvy menyebut para anggota FLP yang kemudian sudah menjadi penulis sepertinya, sebagai relawan. “Di FLP semua anggota adalah relawan,” tuturnya. Dan “Kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa menyukseskan orang lain.”

Kini FLP beranggotakan ribuan orang yang tersebar di 150 kota di Indonesia dan mancanegara. Dalam 15 tahun keberadaannya, FLP di seluruh Indonesia telah mengadakan pelatihan menulis setiap minggu, dengan peserta hingga saat ini mencapai jutaan orang.

Keberadaan FLP menginspirasi lahirnya banyak komunitas penulis muda setelah tahun 1997. FLP juga menggugah para pengarang senior seperti Pipiet Senja, Gola Gong, Fahri Asiza dan Boim Lebon untuk bergabung dan turut menjadi relawan FLP. Koran Tempo menyebut Helvy “Lokomotif Penulis Muda Indonesia” (2003). Taufiq Ismail bahkan mengatakan bahwa FLP adalah hadiah Tuhan bagi Indonesia (2002), sedangkan kritikus Maman S. Mahayana berkata FLP telah menorehkan tinta emas dalam sejarah sastra Indonesia (2007). Karena keberhasilan FLP dalam program ‘Indonesia Menulis’ tersebut, tahun 2008, FLP meraih Danamon Award–sebuah penghargaan tingkat nasional bagi mereka yang dianggap sebagai pejuang, dan secara signifikan dianggap berhasil melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar.

Istri dari Widanardi Satryatomo (Tomi) ini juga menyemangati anaknya menulis, Abdurahman Faiz (lahir 15 November 1995) pada usia 8 tahun telah menulis buku pertamanya: Untuk Bunda dan Dunia yang diterbitkan Mizan, 2004 disusul buku-buku Faiz lainnya. Faiz dikenal sebagai salah satu pelopor lahirnya Seri “Kecil-Kecil Punya Karya”, sedikitnya Ia telah menerbitkan 12 buku dan memperoleh 13 penghargaan nasional pada usia 18 th, diantaranya Anugerah Seni Budaya untuk Pelajar berprestasi yang diserahkan langsung oleh Presiden Republik Indonesia. Pada 1 Februari 2007 Helvy melahirkan anak keduanya, Nadya Paramitha.

**

Daftar buku, beberapa novel dan cerpen karya Helvy Tiana Rosa:
*.Ketika Mas Gagah Pergi (Edisi Kedua)
*.Ketika Mas Gagah Pergi… dan Kembali
*.Bukan di Negeri Dongeng
*.Akira: Muslim Watashi Wa
*.Hingga Batu Bicara
*.Manusia-Manusia Langit
*.Hari-Hari Cinta Tiara
*.Titian Pelangi
*.Risalah Cinta
*.Lelaki Kabut dan Boneka (Dolls and The man of Mist)
*.Bukavu
*.Pelangi Nurani
*.Luka Telah Menyapa Cinta
*.Menulis Bisa Bikin Kaya
*.Catatan Pernikahan
*.One Gigabyte of Love
.Ketika Cinta Menemukanmu
.Merajut Cahaya: Kumpulan Cerpen Terbaik Annida
*.Kisah Seru Aktivis FLP (Matahari Tak Pernah Sendiri I)
*.Lelaki Semesta
*.Kembara Kasih (Novel Interaktif)
*.Sembilan Mata Hati
*.Kado Pernikahan: Kumpulan Cerpen Kehidupan Rumah Tangga
*.Nyanyian Perjalanan
*.Segenggam Gumam
*.Di Sini Ada Cinta! (Matahari Tak Pernah Sendiri: Buku 2)
*.Tanah Perempuan
*.Pangeranku
*.Episode Cinta Sang Murabbi
*.Mata Ketiga Cinta
*.Berguru Kepada Sastrawan Dunia: Buku Wajib Menulis Fiksi
*.Jilbab Pertamaku
*.Sajadah Kata
*.Dunia Perempuan (Antologi Cerita Pendek Wanita Cerpenis Indonesia
*.Lentera Kehidupan
*.Wanita yang Mengalahkan Setan
*.Perempuan Bermata Lembut
*.Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah
*.Leksikon Sastra Jakarta: Sastrawan Jakarta dan Sekitarnya
*.Ketika Duka Tersenyum
*.Dari Pemburu ke Terapeutik (Antologi Cerpen Mastera)
*.Ketika Aa Menikah Lagi
*.Kembang Mayang (28 Cerita Pendek Perempuan Cerpenis Indonesia)
*.Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia
*.Spasiba Brat Komarovich
*.Ini Nih Yang Cewek Mesti Tahu!
*.Hong Kong, Namaku Peri Cinta
*.123 Puisi Perempuan Indonesia
*.Mataharu (Kitab Sastra Mahasiswa)
*.Kota yang Bernama dan Tak Bernama: Antologi Cerpen Temu Sastra Jakarta 2003
*.Sastra Kota: Bunga Rampai Esai Temu Sastra Jakarta 2003
*.Saya dan Mbak Ratna
*.100 Kisah Luar Biasa Dari Orang-Orang Biasa
*.Guru Cinta: Kumpulan Kisah Inspiratif
*.Bisikan Kata Teriakan Kota

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s